Perempuan Itu Bernama Kadrina (Part I)

 

“aku dan kamu dipertemukan
dalam waktu yang singkat
aku tak menyangka dengan kisah ini
kisah yang tak ku duga sebelumnya,

ini adalah skenario indah yang Allah berikan untukku
namun dari rangkaian singkat ini
waktu telah menjawabnya,
bahwa rangkaian ini terhenti sampai di sini

dan Dialah penentu segala kebaikan
semoga kita mendapatkan yang lebih baik lagi”

 Setelah kami berdua sepakat mengambil keputusan, perempuan kelahiran kota hujan itu pergi dari kehidupanku sama halnya dengan diriku dan semuanya berlalu seperti tanpa ada jejak. Tak banyak kata yang bisa diriku ungkapkan selain sebuah kekecewaan yang mendalam. Sebenarnya keputusan ini adalah sebuah penyesalan saat emosi yang tak terkendali itu datang menghampiri diriku. Tak ada yang istimewa dari perjalanan hidup setelah pertengkaran hebat itu, hingga menghasilkan sebuah perpisahan dan bertemu dengan perempuan yang hingga saat ini telah sah menjadi pendamping hidupku yang Insya Allah untuk selamanya.

Pertemuan dengan perempuan ini bisa dikatakan sangat unik, berawal dari perkenalan lewat akun sosial media facebook dimana perempuan ini adalah sahabat perempuan yang sempat mengisi hari-hariku sebelum gadis kota hujan itu menjalin hubungan denganku.

Logat kental khas Makassar sangat sering terdengar ditelingaku melalui speaker handphone ketika rasa iseng untuk menghubungi perempuan ini.

“Apa ko bikin? Pasti lagi santai ko to? Enaknya kerjamu di’..? datang, gombal orang lewat telfon, akhir bulan terima gaji” itulah sapaan pertama ketika saya menelfonnya saat kerjaan dikantor lagi sepi.

Hal itu akan sering saya lakukan sejak pertama kali saya mendapatkan nomor handphonenya dari sahabat karibnya. Berbasa basi tingkat tinggi atau semacam rayuan gombal sering sekali terjadi dalam percakapan hanya untuk mendengar logat Makassar yang kental dari mulut perempuan yang cerewet ini.

Rasa rindu yang dalam dengan kota daeng muncul setelah keputusanku untuk mengadu nasib di ibukota sekaligus melanjutkan pendidikanku. Sunset Pantai Losari, keliling dengan motor kesayangan hingga kenakalan-kenakalan kecil menjadi penyebab rasa itu ada dari tahun 2006 silam saat pertama kali meninggalkan kota Makassar.

Perempuan yang sering saya panggil po’nya’ itu adalah pribadi yang supel dan gampang diajak bergaul bahkan bercanda. Keisengan saya berlanjut hingga malam hari ketika sampai dirumah selepas pulang kuliah hanya untuk sekedar mendengar suaranya yang sering memperdengarkan logat Makassar.

Hari demi hari berlanjut hingga akhir tahun 2009. Rasa kangen dengan keluarga dan kota Makassar tak bisa terbendung lagi sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengambil cuti dan pulang ke Makassar. Dan orang pertama yang saya hubungi ketika keputusan ini saya ambil adalah dia, bukan orang tua maupun saudara.

Setelah tiba di Makassar, kami berdua membuat janji untuk ketemuan disalah satu mall terkenal di Makassar. Tidak tahu siapa yang ngebet untuk ketemuan, dia atau saya sampai-sampai dia harus menghubungi saya berulang-ulang kali ketika sampai ditempat kami janjian.

Di depan tangga turun salah satu hypermarket mall itu, adalah tempat yang kami anggap cocok untuk bertemu karena tempat itulah yang menurut kami sangat gampang untuk menemukan seseorang apabila baru pertama bertemu.

Setelah kami bertemu, tempat yang pertama kami datangi adalah sebuah tempat makan yang menyediakan menu makanan khas Makassar. Setelah itu kami jalan-jalan memutari mall yang terbilang besar dikota Makassar hingga akhirnya dia menyerah karena kakinya sakit akibat berjalan memutari mall. Pertemuan hari itu ditutup dengan berkeliling-keliling kota Makassar mengunjungi tempat-tempat yang paling eksis di kota Makassar tercinta ini.

Hari kedua pun kami sepakat untuk bertemu lagi dengan persyaratan saya harus menjemput dia setelah jam pulang dari kantornya. Hari kedua ini kami hanya ingin pergi melihat sunset di Pantai Losari sekaligus mengisi perut yang keroncongan ditempat makan favoritnya.

Yang istimewa dari hari kedua itu adalah saat kami berdua harus menerobos hujan karena jam pulangnya sudah hampir berakhir. Maklumlah anak perempuan tidak boleh pulang terlalu larut apalagi orang tuanya yang sedikit tegas soal aturan jam pulang ke rumah.

Setelah itu tak ada lagi pertemuan yang khusus bagi kami berdua hingga masa cutiku berakhir di kota Makassar.

lion

“Para penumpang yang terhormat, selamat datang di Jakarta, kita telah mendarat di Bandar Udara internasional SOEKARNO-HATTA, kami persilahkan kepada anda untuk tetap duduk sampai pesawat ini benar-benar berhenti dengan sempurna pada tempatnya dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan. Berakhirlah sudah penerbangan kita pada hari ini atas nama Lion Air kapten Anton, dan seluruh awak pesawat yang bertugas mengucapkan selamat berpisah dan semoga dapat berjumpa lagi di dalam penerbangan Lion Air lain waktu. Sebelum meninggalkan pesawat, kami ingatkan kembali kepada anda untuk memeriksa kembali bagasi kabin anda agar tidak ada barang yang tertinggal. Para penumpang dengan lanjutan penerbangan silahkan melapor pada bagian layanan pindah pesawat di ruang penerbangan. Terima kasih.”

Kalimat yang terlontar dari mulut pramugari maskapai penerbangan Lion Air itu menyadarkanku bahwa kini saya telah berada di ibukota. Tempat dimana saya harus menyelesaikan satu misi yang sempat membuatku dipandang sebelah mata oleh keluarga besarku.

Hari berganti hari saya jalani seperti biasa dengan rutinitas yang cukup padat dari pagi hingga malam. Keisenganku juga tak pernah lepas untuk sering menghubungi dia sekedar menanyakan kabar atau melancarkan rayuan gombal yang menjadi awal memulai percakapan lewat telepon.

Hingga akhirnya tepat pada tanggal 05 Januari 2010 malam ketika kami berdua sepakat untuk menelfon. Saya merasakan sesuatu yang lain yang melanda begitu hebatnya pada diriku. Rasa itu adalah rasa dimana pertama kalinya ketika bertemu dengan perempuan yang saya sukai. Iya.. bisa saya pastikan bahwa saya menyukai perempuan itu, saya ingin menjadikannya kekasih hatiku sama halnya seperti orang lain dan berharap hubungan yang nantinya saya jalani berumur panjang.

Berbagai gombalan saya lancarkan demi menjalankan usahaku untuk menyatakan perasaan yang saat ini berkecamuk didalam diriku. Tepat pada pukul 11 malam akhirnya saya coba mengutarakan rasa yang sedari tadi tak pernah memberikanku ruang untuk sekedar mendengar logat Makassarnya dan akhirnya dia pun menerima perasaan yang saya ungkapkan dengan kata iya walaupun dia agak sedikit ragu atas apa yang terjadi malam itu.

Pembicaraan lewat telepon malam itu menjadi panjang akibat keputusan yang kami berdua ambil. Aturan dan kebijaksanaan kami sepakati malam itu juga dengan harapan agar hubungan yang kami bangun ini dapat berjalan lancar apalagi melihat banyak hubungan jarak jauh yang berakhir cukup tidak menyenangkan.

Dalam hatiku hanya bisa berharap ini adalah hubungan asmara terakhir yang saya jalin dengan perempuan yang mampu menggoyahkan sifatku.

Setelah keputusan malam itu, hari-hari kami jalani kembali seperti biasanya tanpa ada perubahan yang berarti seperti layaknya sepasang kekasih lainnya. Yang membuat berbeda adalah saat kami berbicara, sopan santun yang dulunya kami nomor duakan kini menjadi nomor satu dalam komunikasi. Ini kami ciptakan agar ada rasa saling menghormati dan menghargai antara kami berdua.

—————————————————————-singkat cerita——————————————————————-

Bulan Agustus 2010 tepatnya pada tanggal 16 pukul 19.30 adalah moment yang tak pernah saya lupakan dimana pada hari itu adalah hari penentuan layak tidaknya saya menyandang gelar sebagai seorang sarjana muda setelah kurang lebih 3 tahun lamanya bergelut dikampus yang menyandang julukan “Kampusnya Obama” pada iklan komersil stasiun tv nasional.

Detak jantung yang tak beraturan muncul ketika giliran nama saya disebut dan memasuki ruangan dingin bercat putih seperti layaknya rumah sakit. 5 orang tua berambut putih yang sedang duduk tepat dibelakang meja terlihat seperti harimau yang siap menerkam jika saya melakukan sedikit gerakan salah.

“Assalamualaikum..” sapaan salam dengan kalimat islami terlontarkan dari mulut yang agak sedikit kaku akibat dingin ruangan ber-AC itu, kemudian membagikan setumpuk kertas yang saya bawa dari rumah untuk mereka sebagai acuan agar bisa menghancurkan mimpi-mimpi indahku menyandang toga di depan kedua orang tua.

Kalimat demi kalimat terlontar dari mulutku dalam memaparkan materi yang menjadi senjata agar saya dapat menodong mereka untuk dengan segera memberikan toga itu. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, dan sepertinya mereka terlihat lelah tidak sama dengan saya yang masih sigap menangkis peluru-peluru yang keluar dari senjata mereka. Hasil dari perdebatan hebat itu menyatakan bahwa mereka menyerah dan sesegera mungkin menyerahkan toga yang ditandai dengan mengisi dan menandatangani form serta setumpuk kertas yang saya berikan tadi.

“Alhamdulillah Ya Allah..” kalimat yang pertama kali terucap dari mulutku setelah mereka mengembalikan setumpuk kertas itu sembari berkata “Selamat kamu lulus ujian ini.. Silahkan menunggu pengumuman dan instruksi selanjutnya untuk mengikuti wisuda bulan September nanti.”

Singkat cerita, kabar kelulusan ujian mejaku ini yang bertepatan juga dengan ulang tahunku tersebar hingga ke telinga perempuan itu dan dia pun menghadiahkannya dengan menyatakan akan menghadiri acara wisudaku nanti.

—————————————————————-singkat cerita——————————————————————-

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, dia mengabarkan bahwa dirinya sudah berada di bandara Hasanuddin dan minta dijemput pada pukul 21.00 waktu Jakarta. Rasa rindu serta keinginan untuk segera bertemu dengannya tak bisa terbendung, apalagi sejak kami jadian belum pernah bertatap muka langsung, hanya sebatas video call yang gambarnya kadang terpatah-patah karena jaringan internet yang jelek.

Tepat pukul 20.00 saya sudah berada diruang tunggu kedatangan bandara Internasional Soekarno Hatta. Datang lebih cepat saya lakukan agar tidak melewatkan sedetik pun moment indah saat nantinya dia terlihat keluar dari pintu kedatangan. Sesekali saya melirik tv informasi bandara yang menyajikan daftar kedatangan pesawat dari Makassar. Tak terasa waktupun berlalu, hingga handphoneku berbunyi dan dari sebelah sana terdengar suara perempuan yang saya nanti-nantikan mengabarkan bahwa pesawat yang akan ditumpanginya mengalami keterlambatan sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Saya mencoba bersabar walaupun sebenarnya menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Satu bungkus rokok yang saya bawa dari rumah habis tanpa sisa tetapi belum juga saya mendapatkan kabar yang pasti kapan pesawat yang ditumpanginya itu akan berangkat hingga pukul 01.00 handphone saya kembali berbunyi yang mengabarkan bahwa dia sudah berada didalam pesawat dan akan segera take off.

Pukul 03.10 WIB, tiba-tiba saja terdengar suara dari pengeras suara milik angkasa pura bahwa pesawat Merpati Airlines dari Makassar dengan nomor penerbangan MZA-762 telah mendarat dengan selamat di bandara internasional Soekarno Hatta. Lagi-lagi saya mengucap syukur kepada Allah bahwa orang yang saya nantikan akhirnya datang juga.

Mata yang tadinya sudah tidak dapat memberikan toleransi lagi untuk segera tidur, tiba-tiba saja terbuka lebar ketika melihat perempuan yang tidak asing didalam ingatanku. Dengan raut wajah yang sedikit terlihat lelah dia mencoba memberikan senyum terindah bagi lelaki yang sedari tadi menunggunya.

“Maafkan ka sudah buat kita begadang tunggui ka.. maskapainya bela nda jelas ki kasih informasi berangkatnya..” kata yang pertama keluar dari mulutnya ketika bertemu dengan saya. Saya hanya tersenyum mendengarnya sembari dalam hati berguman “ini orang.. biar di Jakarta tetap logat Makassarnya tidak hilang” tetapi itulah yang membuat saya selalu rindu dengannya.

Setelah acara temu kangen singkat itu terjadi, kami berdua pun memutuskan untuk segera mencari tempat makan mengingat saya tidak sempat makan malam dari rumah. Pembicaraan mengenai keterlambatan pesawat itu berlanjut di salah satu tempat makan yang masih berlokasi di lingkungan bandara sembari menunggu bus damri yang beroperasi pagi hari.

Pagi harinya kami melanjutkan ke rumah keluargaku untuk menaruh barang bawaan sekaligus menyusun rencana untuk ke tempat hiburan yang sering kami berdua bicarakan ditelpon. Tujuan pertama kami adalah Taman Impian Jaya Ancol, setiba disana dengan kondisi yang masih sepi kami langsung memutuskan untuk menaiki semua wahana yang ada didalamnya.

Satu persatu wahana kami coba, dimulai dengan kora-kora hingga komedi putar yang tingginya mencapai 40 meter jadi pelampiasan liburan kami berdua. Senyum ceria, muka panik, hingga ketakutan terlihat jelas dari raut wajahnya saat mencoba menaiki wahana yang menantang adrenalin. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, kami harus segera meninggalkan tempat bermain itu dan kembali ke rumah untuk melakukan persiapan perjalanan mengunjungi teman SMAnya yang menetap di Bandung esok hari.

Berwisata ke Bandung juga menjadi destinasinya keluar kota sambil menunggu hari wisudaku yang masih tersisa 1 hari lagi. Bertemu sahabat sewaktu SMA dulu adalah cita-citanya menginjakkan kaki di Bandung.

Singkat cerita hari yang dinantikan pun tiba. Persiapan sedari pagi untuk wisuda telah dilengkap tinggal menunggu kode dari keluarga yang akan mengantar kami berdua ke lokasi tempat wisuda itu berlangsung.

Setelah acara wisuda selesai kami berdua memilih berfoto-foto ria dilokasi tempat wisuda bersama teman-teman kampus yang lain hingga sore hari dan kami kembali ke rumah untuk berkemas karena esok harinya dia kembali ke Makassar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: