Memakai Rasa di Media Sosial

Media-Sosial-Untuk-Bisnis

Akhir-akhir ini, linimasa media sosial dipenuhi dengan foto-foto terkini dari kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya. Dalam hitungan jam, semua orang berlomba-lomba menjadi yang terdepan menyebarkan berita tersebut. Adanya media sosial membuat semua orang bisa menjadi jurnalis. Namun, satu hal yang belum kita sadari, citizen journalism juga perlu rasa empati dan etika.

D. Chandra Kirana, dosen pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia sebenarnya sudah sadar dan peka dalam menanggapi suatu peristiwa atau objek sosial. “Namun, masih ada juga orang yang mengabaikan perasaan atau pikiran orang lain karena sudah kehilangan empati, atau dengan sengaja membagikan foto tersebut karena ingin populer dan dianggap terdepan dalam memberikan informasi kepada publik,” jelas wanita yang akrab disapa Kicky ini.

Tengok saja, di Facebook misalnya, ada saja yang memberitakan kematian kerabatnya, ‘terlalu lengkap’ sampai-sampai disertai foto almarhum dalam keadaan dikafani. Di Twitter, laporan kecelakaan mobil atau kereta api, sampai diperlihatkan foto korban yang berdarah-darah.

Kicky mengamati, kemajuan teknologi dan kecepatan media sosial memunculkan kecenderungan baru di masyarakat untuk melakukan semacam ‘kompetisi’ dalam mengunggah informasi semacam ini. Seolah-olah, orang yang mempublikasikan itu adalah orang pertama yang paling tahu mengenai peristiwa sosial yang tengah terjadi.
Kecanggihan teknologi memunculkan istilah baru yang disebut citizen journalism atau jurnalisme warga. Dalam fenomena citizen journalism, kegiatan pemberitaan yang selama ini dilakukan oleh media beralih ke tangan warga biasa.

Jika pada institusi media massa formal, semua berita ditulis atau dilaporkan oleh seorang jurnalis yang sudah paham kode etik jurnalistik, dalam citizen journalism  tiap orang dari berbagai profesi, entah itu mahasiswa atau ibu rumah tangga, bisa memberikan informasi terbaru mengenai suatu peristiwa. Tak hanya itu, mereka juga melakukannya tanpa kurasi, sebagaimana layaknya di institusi media massa formal, ada editor yang bertugas menyunting dan menegakkan etika jurnalistik.

Biasanya, para citizen journalist ini menggunakan blog, website, atau media sosial pribadi untuk mengunggah tulisan, foto, dan video yang mereka kumpulkan.  Dalam citizen journalism, tak ada batasan atas informasi (tulisan, foto, video) yang dipublikasikan. Oleh sebab itu, kebenaran isi beritanya tentu kurang dapat dipertanggungjawabkan.
“Jika di media konvensional ada kode etik yang harus dipenuhi, dalam citizen journalism sulit menetapkan standar kode etik yang berlaku,” ujar Kicky.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: