Pancasila, Harga Mati Bangsa

agusisiwoyo.com

Sumber Gambar: http://agussiswoyo.com

 

Pancasila dasar kehidupan berbangsa dan bernegara

Berbicara tentang kemajuan teknologi saat ini tidak lepas dari gaya hidup yang modern dan sifat kebarat-baratan. “Dunia semakin gila” kata seorang pakar politik, hukum dan HAM, melihat gaya hidup manusia saat ini bahkan Bangsa Indonesia pun ikut mendapat imbas dari itu semua.

Perilaku yang tidak tahu aturan dan cara bertutur kata yang tidak sopan sehingga kadang membuat adanya gesekan kecil. Gesekan-gesekan itulah yang bisa menjadi bom waktu dikehidupan bermasyarakat saat ini.

Butir-butir yang terdapat didalam Pancasila saat ini hanya sebatas sebagai pendidikan dasar disekolah sebagai syarat untuk bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Dilihat, dihafal kemudian disampaikan didepan kelas tanpa harus dipahami apa makna dari isi Pancasila tersebut.

Pada dasarnya Pancasila adalah dasar negara dimana setiap butir-butir pancasila merupakan dasar dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penulis pernah mendengar cerita dari seorang blogger senior di suatu tempat nongkrong yang bercerita tentang pengalamannya menemani 18 orang Afganistan yang datang ke Makassar untuk belajar menjadi fasilitator. Dalam percakapannya orang Afganistan itu mengagumi kehidupan bernegara di Indonesia. Mempunyai berbagai macam agama, suku bangsa dan adat istiadat tapi dapat hidup rukun dan bahagia satu sama lain. Dinegara mereka yang secara geografis lebih kecil dari luas indonesia dengan suku bangsa yang sedikit pula bukan hidup berdampingan melainkan saling bergesekan.

Kekacauan, peperangan dan bom dimana-mana menjadi redaksi utama dan bahan cerita ketika kita topik yang diangkat adalah negara yang berada didaerah timur tengah ini.

 

Pancasila dalam kehidupan masyarakat

Mengapa kita di Indonesia yang hidup dengan berbagai macam agama, suku dan adat istiadat tetapi mampu hidup berdampingan dan tentram?. Semua itu dilandasi oleh pancasila walaupun tidak bisa dipungkiri untuk gesekan antar suku ataupun agama masih ada, seperti poso, ambon dan sampit.

Butir pancasila ketiga yang berbunyi persatuan indonesia adalah dasar mengapa kita bisa hidup dengan tentram dinegara yang kaya akan budaya dan adat istiadat. Perbedaan yang sangat mencolok membuat semuanya sangat gampang untuk diadu dombakan.

Seiring berjalannya waktu bangsa Indonesia dapat menerapkan butir ketiga ini dalam kehidupan masyarakat. Berbagai cara dilakukan oleh pemerintah dalam menerapkan Pancasila ini, dimulai dari pendidikan dasar hingga ke bangku kuliah dengan program Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila.

 

Pancasila mulai rapuh

Seiring dengan berjalannya perkembangan kehidupan dijaman modern saat ini, pancasila mulai kehilangan peminatnya. Masyarakat Indonesia lebih mengedepankan ego dan kepentingan masing-masing sehingga tidak ada lagi kata Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainga dalam bahasa Bugis Makassar yang artinya saling memanusiakan, saling menghargai dan saling mengingatkan.

Kekerasan adalah jalan keluar dalam menyelesaikan masalah tidak ada lagi negosiasi, tidak ada lagi kata damai, tidak ada lagi musyawarah. Orang-orang yang lebih pintar malah memanfaatkan kesempatan dengan mengambil keuntungan bagi diri mereka sendiri. Mereka lupa pada pasal Pancasila yang berbunyi: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mereka mengubahnya menjadi: kemakmuran sosial bagi saya dan golongan saya.

Globalisasi telah membuat kita lupa akan pancasila sebagai identitas diri kita masyarakat yang berbangsa dan bernegara.

 

Saatnya kita kembalikan Pancasila

Sangat sulit mengembalikan semuanya ketika globalisasi telah mendarah daging didalam kehidupan kita. Menurut sebagian orang Pancasila adalah sebuah sejarah yang dibingkai cantik untuk diperlihatkan kepada anak cucu tanpa harus diamalkan.

Tetapi kita tidak boleh kehilangan harapan dengan semua itu, Pancasila harus dikemas semenarik mungkin dalam penerapannya dikehidupan bermasyarakat tanpa ada nilai-nilai yang dihilangkan sehingga bisa mengembalikan semangat Pancasila yang sebenarnya.

Kenalkan Pancasila yang baik kepada generasi muda yang mulai dengan bangganya mengenakan kostum globalisasi yang lambat laun akan menghancurkan kehidupan berbangsa dan bernegara mereka.

Penulis selalu mengingat puisi karya Tecumseh yang dibaca saat pemeran utama meninggal dalam film ACT OF Valor :

“Jalani hidupmu dimana ketakutan akan kematian tidak pernah menyusupi hatimu..

Hargai agama orang lain..

Hormati orang lain dan pandangannya dan minta mereka menghormati pandanganmu..

Cintai hidupmu..

Sempurnakan hidupmu..

Perindah semua hal dalam hidupmu..

Berusahalah panjang umur dan layanilah negaramu..

Ketika tiba saat kematianmu..

Janganlah seperti mereka yang hatinya diliputi oleh rasa takut akan kematian..

Sehingga saat masanya tiba mereka akan menangis, dan berdoa diperpanjang waktunya..

Untuk hidup selamanya dan tiada bedanya..

Nyanyikanlah lagu kematianmu dan gugurlah seperti pahlawan yang pulang kerumah..”

p3m

Sumber Foto: http://p3m.or.id

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: