Perbedaan Membuat Kita Satu

Ketidaksamaan atau perbedaan kadang kala membuat segala sesuatunya menjadi masalah, itulah yang selalu terjadi didalam kehidupan kita. Perbedaan pendapat, perbedaan kehidupan, bahkan perbedaan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa sering membuat kehidupan seseorang bermasalah dengan orang lain, entah itu dengan kata-kata yang merupakan sindiran atau dengan perbuatan. Dengan perbedaan kita sering melupakan arti manusia sebagai mahluk sosial dan menyampingkan hati nurani.

Kadang saya berpikir, seandainya Tuhan tidak memberi manusia akal-budi. Akal-budi dan kemampuan manusia untuk berpikir telah membuat manusia menjadi penghancur, penghancur dirinya sendiri. Ditengah kehidupan yang heterogen seperti sekarang ini, perbedaan semakin di perdebatkan, saya putih, kamu hitam, saya benar kamu salah.

Keyakinan adalah hal yang paling sering menjadi gejolak, Indonesia yang heterogen sangat rentan dengan gejolak, hal kecil di perdebatkan, hal besar di bakar bakar.
Dengan alasan menjunjung moral namun justru mengabaikan hak asasi, cenderung berpikir ala susah lihat orang lain senang, senang melihat orang lain susah, penyebabnya cuma satu yaitu perbedaan. Bukankah bangsa ini katanya bangsa toleran, kenapa risih dan terganggu melihat orang lain beda ?, suka bergotong-royong, berketuhanan dsb ?. Kemana pelajaran yang saya peroleh sejak kecil itu ?.

Bukankah berbeda itu indah, oh iya, betul , misal ( pelangi, bayangin kalo pelangi satu warna, emang kalo satu warna masih disebut pelangi kah ? ). Justru karena perbedaan itu kita ada, ada laki ada perempuan, akhirnya ada kita, hasil reproduksi ( hasil perbedaan, bukan ? ). Menurut saya , perbedaan adalah awal dari segalanya, kalau tidak berarti semuanya hanya satu, satu titik, gitu aja. Setelah ada titik-titik lain yang berbeda tempatnya, jadilah garis, terus akhirnya jadilah bentuk, dst dst. Jadi sebenarnya perbedaan itu adalah produk Tuhan yang membentuk segala sesuatu didunia ini, ketika perbedaan semakin kompleks, kenapa kita justru memperdebatknnya, bahkan saling bunuh demi perbedaan itu ?. Sejarah dunia mencatat, pengingkaran terhadap “perbedaan” hanya membuahkan kesengsaraan, hanya berupa sebuah hegemoni komunal sesaat.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: