Manajemen Hati

Kehidupan sekarang patut diakui sangat-sangat luar biasa bahkan bisa diacungkan jempol, bagaimana tidak, Hati Nurani sepertinya sudah mati dalam diri manusia. Berita dikoran-koran, majalah, radio, televisi telah membuktikan kekuasaan emosi dalam diri kita luar biasa. Mulai dari masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), masalah Pembunuhan, Bunuh Diri, bahkan sampai Mutilasi.

Mengapa semua itu bisa terjadi ???

Salah satu penyebabnya adalah kita membiarkan diri kita dikuasai / distir oleh akal (otak) sehingga sulit untuk memahami dan mengungkapkan emosi itu sendiri. Sejak kecil kita dididik didalam sistem yang lebih mengutamakan IQ (kecerdasan otak) daripada EQ (kecerdasan emosi). Sementara dalam budaya Timur, kita diajarkan untuk mengekang emosi, dimana pria tidak boleh menangis dan wanita harus pandai memendam perasaan.

 

Semakin dewasa, ruang ekspresi itu pun kian terbatas karena kita dituntut untuk lebih pandai mengendalikan emosi. Lama kelamaan, emosi kita pun menjadi semakin lemah. Bahkan wanita yang semula dianggap lebih berperasaan dibanding pria, semakin mirip pria yang sulit mengakui perasaannya.Kehidupan yang super sibuk dan keras juga membuat wanita harus bersikap tegar. Sehingga tanpa sadar kita pun terbiasa menekan perasaan. Dan, ketika emosi sedang bergejolak, kita terbiasa mengalihkannya dengan membahas, “mengapa saya sedih, seharus-nyakah saya marah”. Dengan kata lain, kita lebih sering memikirkan (di kepala) perasaan ketimbang merasakannya (didada).

Kunci dari semua itu…

Kata keikhlasan memang sudah sering kita dengar tapi mampukan kita untuk melakukannya….?????
Melalui emosi kita bisa melihat kita berada dalam ruang lingkup nafsu (marah, sedih, takut, cemas) atau kita berada dalam ruang lingkup ikhlas (tenang, damai, nyaman) dan menuju dalam tingkat kebahagiaan.
Namun karena kekurang pahaman kita tentang emosi sehingga kita sering kali terjebak dalam ruang lingkup nafsu yang mengakibatkan kita sering lepas kendali / tidak terkontrol atas emosi kita sendiri.
Mengendalikan emosi bukan berarti kita harus bisa mengkekangnya atau mempersempit ruang gerak emosi itu sendiri tetapi sebaliknya kita harus bisa melepaskan emosi itu dan menerima apa adanya dengan ikhlas. Kondisi ikhlas yang bisa membuat pikiran dan hati berjalan selaras.

Berdasarkan studi, frekuensi otak, dan hati bisa bertemu pada gelombang alfa (bawah sadar) atau ketika tubuh dalam kondisi relaks seperti saat bermeditasi atau berzikir. Alam keadaan yang seperti ini kita dituntut harus bisa berdialog dengan hati. Jika kita bersedih atau marah jangan ditahan atau dihindari melainkan kita melepaskannya. Sambut semua perasaan itu dengan apa adanya biarkan hati yang menjerit, berteriak atau menangis sepuas-puasnya agar kita dapat tenang dan damai. Ini menandakan kita sudah bisa menjalankan ruang lingkup Ikhlas dalam diri kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: