Makassar Kehilangan Wajah

Dunia semakin berubah itulah yang bisa kita ungkapkan saat ini ketika melihat perkembangan jaman yang semakin gila. Gedung-gedung pencakar lagi mulai tumbuh dimana-mana, pantai yang dulu bertabur pasir kini beralaskan beton yang kuat, taman yang dulu hijau kini jadi pusat promosi mulai dari perusahaan raksasa hingga wajah-wajah manusia yang maruk ingin berebut kursi kekuasaan.

Seperti halnya Makassar saat ini, bisa dikatakan 70% perubahan terjadi. Makassar yang dulu saya kenal sudah berubah wajah menjadi topeng kesuksesan seorang pemimpin. Indahnya pantai Losari saat menanti senja dengan pusat jajanan terpanjang di Indonesia menurut MURI kini menjadi beton yang kuat sekaligus markas para manusia yang mengakui diri mereka sebagai preman jalanan. Bangunan tua yang menjadi saksi bisu sejarah ketika para pahlawan kita berjuang mempertahankan Bangsa Indonesia ini telah berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit seolah-olah menjelaskan bahwa akulah penguasa negeri ini, ditambah lagi taman hijau yang biasa menjadi pusat aktifitas masyarakat Makassar entah itu berolahraga atau bercengkrama dengan sahabat, kini berubah menjadi warna warni iklan perusahaan bahkan wajah-wajah manusia pencari kursi kekuasaan dinegeri ini.

Ada apa dengan Makassarku?

Pantai yang dulunya saya banggakan ketika berhadapan dengan para sahabat kini berubah wajah seperti bukan dirinya lagi, bangunan-bangunan tua sejarah kini hanya tinggal kenangan didalam benak para pelaku sejarah kita dan taman hijau tempat bercengkrama bersama para sahabat harus diwarnai dengan tinta-tinta kekuasaan.

Saya coba mengungkapkan semua isi hati ini kepada seorang sahabat tentang Makassar yang kehilangan wajahnya dan dia pun hanya tertawa mendengar curhatan hati ini. “Inilah dunia sahabat” katanya, semua pasti akan berubah mengikuti perkembangan jaman tetapi terkadang Pemerintah kita yang kehilangan arah untuk bisa menanggapi perkembangan jaman saat ini. Mereka lebih melihat dari sisi kemajuan suatu daerah daripada menjaga kelestarian sejarah dan itu tidak bisa dipungkiri ketika sebuah prestasi yang dijanjikan oleh Pemerintah Pusat sungguh menggiurkan demi ketenaran daerah yang dipimpinnya.

Contoh lain yang saat ini bisa kita lihat adalah Benteng Somba Opu atau yang biasa disingkat BSO, Benteng Somba Opu sebagai simbol daerah yang menyajikan ragam rumah budaya dan adat istiadatnya kini terbengkalai dan tak terurus, hanya masyarakat sekitar yang masih peduli dengan sejarah, budaya dan adat istiadat yang ikut membantu menjaga kelestarian didalamnya.

Belum terselesaikan masalah kelestarian sejarah itu tiba-tiba saja didepan pintu gerbang Benteng Somba Opu dibangun sebuah tempat wisata modern yang secara tidak langsung membunuh wisata sejarah Kota Makassar. Bagi saya pribadi, ini sebuah tamparan buat kita masyarakat Makassar yang bangga dengan penuh cerita sejarah justru harus menelan pil pahit dari Pemerintah yang secara notabene seharusnya mendukung semua gerakan yang memajukan sejarah kota Makassar.

Berbanding terbalik dengan kota-kota lain seperti Yogyakarta atau Bali, sebagai contoh Bali yang sudah sampai 5 kali saya datangi, itu hanya karena adat istiadatnya. Saya sendiri merasa heran mengapa saya begitu tertarik mendatangi Bali dan itulah yang saya jadikan salah satu alasan mengangkat tulisan ini.

Bali saja yang secara lisan maupun tertulis sudah dikenal oleh banyak orang bahkan sampai mancanegara masih mempertahankan sejarah dan adat istiadatnya bahkan itu yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak turis-turis asing yang datang ke Bali, terus mengapa kota Makassar tidak bisa seperti Bali? Mengapa Makassar lebih bangga dengan gedung-gedung pencakar langitnya? Mengapa Makassar lebih bangga dengan modernnya?

Saya sempat mendengar slogan mantan Walikota Makassar yang berbunyi “ Makassar Kota Dunia” dan saya pun tertarik untuk mencari tau lebih banyak lagi seperti apa sih kota dunia menurut pakar dan banyak orang?.

Dari semua tulisan ataupun penyataan yang saya dapatkan bisa saya simpulkan bahwa Kota Dunia yang dijadikan slogan untuk Kota Makassar itu disalah artikan oleh para pemimpin. Menurut saya, Kota Dunia mempunyai tema yaitu “BLUE & GREEN” yang berarti Biru lautnya dan Hijau pohonnya bukan Kota Dunia yang berarti banyaknya gedung-gedung pencakar langit seperti kota besar diluar negeri. Kota Dunia di Makassar justru menyepelekan BLUE & GREEN, yang terjadi malah lautnya kotor dengan sampah-sampah yang sampai saat ini belum bisa diselesaikan oleh Pemerintah serta taman kota dan pepohonan yang ada disepanjang jalan hanya dijadikan sebagai media untuk beriklan dengan cara dipaku dan secara tidak langsung itu akan membunuh perlahan tanaman hidup.

Saran saya sebaiknya Pemerintah Kota Makassar seharusnya banyak belajar dari kota-kota seperti Yogyakarta dan Bali tentang bagaimana mempertahankan sejarah, budaya dan adat istiadat bukan mengambil contoh dari luar negeri dengan membangun gedung-gedung mewah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: