Trip tanpa Terigu oleh Delapan Naga Pajappa

Assalamualaikum WR WB,

Malam ini penulis akan bercerita tentang pengalaman mendaki ke Lembah Ramma bersama tujuh naga Pajappa.  Tetapi sebelum bercerita panjang lebar tentang pendakian tersebut penulis ingin memperkenalkan apa itu Pajappa?, Pajappa berasal dari bahasa Makassar yang artinya Tukang Jalan, sedangkan Komunitas Pajappa sendiri berdiri atas inisiatif teman-teman yang suka ngumpul dan mempunyai hobby yang sama yaitu jalan-jalan. Seperti biasa disetiap komunitas anggotanya sering mempunyai julukan yang aneh-aneh begitu juga di Komunitas Pajappa yang menjuluki diri mereka sebagai Para Naga Pajappa.

Siang itu tanggal 18 Juni 2013 teman-teman Komunitas Pajappa yang sering ngumpul berinisiatif untuk melakukan pendakian ke Lembah Ramma. Pendakian Lembah Ramma sendiri sudah sering dilakukan oleh teman-teman Pajappa hanya bedanya kali ini yaitu dari segi ransum. Ransum yang biasa dikonsumsi pada saat mendaki tidak jauh dari berbahan dasar terigu seperti indomie dan sejenisnya, roti dan lain-lain. Kali ini teman-teman dari Pajappa mencoba untuk tidak mengkonsumsi ransum berbahan dasar terigu, maka terjadilah kesepakatan oleh teman-teman yaitu Trip tanpa Terigu. Trip tanpa Terigu kali ini akan diikuti oleh delapan naga Pajappa termasuk penulis. Pendakian kali akan dilakukan pada Jumat malam tanggal  21 Juni 2013 berbeda dengan kebiasaan pendaki lainnya yang lebih memilih untuk melakukan pendakian pada pagi hari, pendakian malam hari ini disepakati guna menghemat waktu yang ada dan mengantisipasi ramainya jalur pendakian pada pagi hari.

Kedelapan Naga Pajappa yaitu Naga Enal, Naga Nana, Naga Lenka, Naga Ari, Naga Tislam, Naga Wirya dan Penulis

Pada tanggal 21 Juni 2013 seperti yang sudah disepakati maka berkumpulah Para Naga-Naga Pajappa di Cafe Baca Adhyaksa sekaligus untuk meeting koordinasi tiap divisi di Komunitas Pajappa. Pukul 21.30 Wita delapan Naga Pajappa berangkat menuju Desa Lembanna, desa terakhir di kaki Gunung Bawakaraeng.

Delapan Naga Pajappa tiba dikota Malino pukul 23.45 Wita dan mampir diwarung depan hutan pinus untuk mengisi lambung tengah yang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Sekitar satu jam setelah mengisi lambung delapan naga kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa terakhir dikaki Gunung Bawakaraeng.

Pukul 01.50 Wita delapan naga tiba didesa Lembanna, selanjutnya memarkir kendaraan tepat didepan rumah Tata Rasyid (warga sekitar yang selalu dijadikan tempat melapor para pendaki) dikarenakan waktu sudah tengah malam dan tidak ingin menggangu istirahat Tata Rasyid, delapan naga akhirnya melanjutkan perjalanan menuju pintu gerbang Gunung Bawakaraeng yang jaraknya sekitar 200 M dari rumah Tata Rasyid.

Digerbang tersebut delapan naga berdoa bersama dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Pos Nol Gunung Bawakaraeng. Setiba di Pos Nol Om Enal (panggilan akrab) memberikan arahan dan menyusun barisan layaknya para pendaki ketika akan berjalan menyusuri jalur dan Lenka mendapat posisi paling depan (Leader) dikuti Kanda Tis, Om Enal, Wirya, penulis, Nana, Momo dan terakhir Ari (Swiper). Setelah semua sudah siap delapan naga pun berjalan menuju Pos Satu Gunung Bawakaraeng.

Didalam perjalanan delapan naga sempat mengalami musibah, Wirya yang baru pertama kalinya mendaki ke lembah Ramma hampir saja jatuh saat menuruni bukit menuju sungai empat. Wirya terpeleset saat menginjak batu yang dipenuhi lumut, dan dengan refleksnya penulis menangkap carrier Wirya.

Kurang lebih empat jam perjalanan dengan melewati lima sungai kecil akhirnya tim delapan naga tiba di Tallung pada pukul 06.15 Wita kemudian melanjutkan lagi perjalanan menuruni bukit menuju lembah Ramma. Tepat pukul 07.00 Wita tim delapan naga akhirnya tiba di lembah Ramma.

Setiba dilembah Ramma tim delapan naga kemudian membagi tugas untuk mempersiapkan semuanya, ada yang membangun tenda, ada yang menyiapkan sarapan dan ada yang mencari kayu untuk digunakan pada malam hari. Setelah semuanya telah selesai tim delapan naga pun sarapan kemudian mengambil tempat masing-masing untuk beristirahat.

Setelah istirahat kurang lebih 3 jam, kami pun bangun untuk bersiap-siap melanjutkan misi “Ekspedisi Lembang Loe”. Ekspedisi tersebut kami laksanakan guna mencari lokasi yang bagus untuk perkemahan nantinya.

Sedang asyik-asyiknya berdiskusi tentang lokasi perkemahan tiba-tiba saja Handy Talky yang dibawa penulis berbunyi dan dari seberang sana rupanya Nana memberitahukan bahwa Ari mendapat SMS dari Ibu Suri (panggilan buat Ibu Ari), yang isinya “Ibu Suri sedang dalam perjalanan dari Kabupaten Bantaeng menuju Makassar” dan Ari harus pulang karena kunci rumah dipegang olehnya. Ekspedisi Lembang Loe pun kami akhiri dan segera bergegas kembali menuju tenda di lembah Ramma.

Setibanya kembali ke tenda tim ekspedisi Lembang Loe, Ari memberitahukan untuk menghubungi Ibu Suri namun dikarenakan sinyal provider telepon hanya ada di Tallung maka Ari memutuskan untuk naik ke Tallung ditemani oleh Nana.

Sekitar satu jam Ari dan Nana kembali ke lembah Ramma dan keputusan yang diambil adalah Ari harus pulang saat itu juga. Kami pun berdiskusi dan memutuskan siapa yang akan menemani Ari untuk kembali ke Makassar mengingat waktu sudah hampir Magrib. Setelah berdiskusi akhirnya diputuskan bahwa yang menemani Ari kembali ke Makassar adalah Lenka dan mereka berduapun segera mengemasi barang-barang bawaannya.

Memang agak sedikit miris ketika harus ada teman yang pulang duluan namun keputusan itu memang harus diambil.

Setelah Ari dan Lenka pamit untuk balik ke Makassar kami yang tinggal berenam kemudian menyiapkan makan malam dan api unggun dari kayu yang kami kumpulkan tadi pagi. Sesuai dengan perencanaan awal kami bahwa trip kali ini adalah Trip tanpa Terigu maka makanannya pun sedikit agak mewah buat para pendaki-pendaki lainnya.

Setelah makan malam siap, kami pun makan bersama-sama. Kemudian dilanjutkan dengan acara api unggun sambil bercerita tentang pengalaman kami satu persatu.

Dan malam pun tiba, satu persatu dari kami mulai merasakan dinginnya lembah Ramma dan memutuskan masuk ke dalam tenda untuk beristirahat.

Ditengah malam ketika kami sedang istirahat, Wirya keluar dari tenda, rupanya dia ingin mengabadikan moment indah tersebut dengan kamera DSLR yang dibawanya dan hasilnya pun lumayan bagus setelah mengabadikan moment tersebut Wirya kembali ke tenda untuk beristirahat.

Keesokan paginya kami bangun kemudian mempersiapkan sarapan dan packing untuk kembali ke Makassar. Didalam perjalanan pulang kami sempat berfoto-foto untuk jadi kenangan bahwa kami pernah mengadakan Trip tanpa Terigu.

Begitulah cerita kami dalam Trip tanpa Terigu dan selalu berharap untuk bisa mengulang kembali trip tersebut dengan lebih banyak Naga-Naga lainnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: